Kalimat : Pengertian, Ciri, Jenis, Unsur, Struktur, Bentuk, Dan Fungsinya Lengkap

11 min read

Kalimat : Pengertian, Ciri, Jenis, Unsur, Struktur, Bentuk, Dan Fungsinya Lengkap

Pengertian Kalimat – Biasanya kalimat adalah serangkaian kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap kata yang terlibat disusun sesuai dengan kaidahnya. Di setiap katanya juga termasuk dalam kelas/kategori, dan memiliki fungsi pada kalimat tersebut. urutan dari rentetan kata juga akan menentukan jenis kalimat yang dihasilkan.

Kalimat adalah satuan sintaksis yang sudah disusun dari konstituen dasar, secara umum bentuknya berupa klausa yang sudah dilengkapi dengan konjungsi bila dibutuhkan dan disertai dengan intonasi yang final.

Peran kalimat sangat penting karena harus mampu menyampaikan informasi, menanyakan hal, bahkan untuk mengekspresikan emosi yang sedang dirasa.

Pengertian Kalimat Menurut Para Ahli

  1. Pengertian kalimat menurut pendapat Keraf ( 1984:156) adalah satu bagian dari ujaran yang didahului serta diikuti dengan kesenyapan, dan intonasi menunjukkan bagian uraiannya telah lengkap.
  2. Pengertian kalimat menurut pendapat Dardjowidojo (1988: 254) adalah bagian terkecil dari ujaran/teks atau wacana yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.
  3. Pengertian kalimat menurut pendapat Slamet Muljana (1969) adalah keseluruhan penggunaan kata yang berlagu,  disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.
  4. Pengertian kalimat menurut pendapat Kridalaksana (2001:92) adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, memiliki intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa. Klausa yang bebas menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.
  5. Menurut ahli tata bahasa tradisional di dalam buku Chaer (1994:240), kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap.
  6. Menurut pendapat Alwi dkk., (2000:311), kalimat adalah diucapkan dalam suara naik-turun dan keras-lembut disela jeda, diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, baik asimilasi bunyi maupun proses fonologis lainnya.
  7. Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988), kalimat adalah bagian terkecil ujaran/teks yang mengungkapkan pikiran utuh dengan kebahasaan.

Secara lisan kalimat diiringi dengan  alunan titinada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Sedangkan dalam wujud tulisan kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.

Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa. Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat.

Kesimpulannya, yang penting atau yang menjadi dasar kalimat adalah konstituen dasar dan intonasi final, sebab konjungsi hanya ada kalo diperlukan. Konstituen dasar itu biasanya berupa klausa. Sehingga pada klausa diberi intonasi yang final, maka terbentuklah kalimat itu.

Kesimpulan lainnya yaitu konstituen dasar bisa berupa klausa karena biasanya berupa klausa, tapi bisa juga berupa kata/frasa. Mungkin status kalimatnya tak sama. Kalimat dengan konstituen dasar berupa klausa tentu menjadi kalimat mayor/bebas.

Konstituen yang terbentuk dalam inti kalimat bahasa Indonesia, akan terlihat pada salah satu konstituen yang berperan penting dibanding yang lainnya. Konstituen itu seolah menentukan konstituen lainnya, yang dimana boleh muncul dalam suatu kalimat. Konstituen punya peran besar dan sebagai pusat, sedang konstituen yang lain disebut pendamping. Dalam kalimat yang memakai verba, pendamping adalah nomina.

Ciri-Ciri Kalimat

  1. Pada bahasa lisan diawali dengan kesenyapan serta diakhiri dengan kesenyapan pula. Pada bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik(.), tanda Tanya(?), serta tanda seru(!).
  2. Kalimat aktif minimal terdiri dari subyek dan juga predikat.
  3. Predikat transitif disertai dengan objek, predikat intransitive bisa disertai dengan pelengkap.
  4. Mengandung anggapan yang lengkap.
  5. Menggunakan urutan yang logis di setiap kata maupun kelompok kata yang dimana mendukung fungsi (SPOK) dan disusun ke dalam satuan sesuai dengan fungsinya.
  6. Mengandung: satuan makna, ide, atas pesan yang jelas.
  7. Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat tersebut disusun ke dalam satuan makna pikiran yang saling berkaitan. Hubungan dijalin melalui konjungsi, pronominal/kata ganti, repetisi/struktur sejajar.

Unsur-Unsur Kalimat

Adapun unsur-unsur dalam suatu kalimat seperti berikut :

  1. Subjek/Subyek (S)
  2. Predikat (P)
  3. Objek/Obyek (O)
  4. Pelengkap
  5. Keterangan (K)

Ciri dan Contoh dari Masing-masing Unsur Kalimat

Subjek/Subyek (S)

Adalah unsur pokok yang ada di suatu kalimat, disamping dari unsur predikat. Dalam pola penulisan kalimat bahasa Indonesia, secara umum subjeknya terletak sebelum predikat kecuali jenis kalimat inversi. Secara umum subjeknya berwujud nomina. Contohnya :

  • Mereka datang dari Bandung.
  • Justin Bieber merupakan penyanyi asal Canada.
  • Bambang pergi ke Spanyol.
Baca Juga :  Contoh Seloka Nasehat, Pendidikan, Mengejek, Sindiran Lengkap

Kesimpulannya Justin Bieber, dan Bambang merupakan Subjek. Dan ada juga subjek yang bukan nomina. Contohnya :

  • Berwudhu harus dilakukan sebelum menjalankan sholat.
  • Delapan adalah sebuah angka.
  • Patah hati dapat dialami oleh semua orang.

Ciri-ciri subjek

  • Menjawab pertanyaan “apa” atau “siapa”
  • Diikuti dengan kata “itu”
  • Diawali dengan kata “bahwa”
  • Memiliki keterangan pewatas “yang” (konjungsi dengan menggunakan kata “yang”)
  • Tidak diawali dengan preposisi seperti “dari”, “dalam”, “di”, “ke”, “kepada”, “pada”.
  • Berupa Nomina atau Frasa Nominal

Predikat (P)

Predikat juga menjadi unsur utama dalam kalimat di samping subjek, yang menjadi inti dalam kalimat. Unsur yang dapat mengisi predikat dapat berupa kata, sebagai contoh verba, adjektiva, atau nominal, numeral serta preposisional. Tak hanya itu, adapun frasa, sebagai contoh frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan).

Contohnya :

  • Gilang bermain gitar di lantai atas.
  • Setiawan memasak samyang.
  • Putra sedang melihat game online.

Maka kata bermain , memasak, dan melihat merupakan sebuah predikat.

Ciri-ciri predikat

  • Menjawab pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana.
  • Bisa berupa kata “ialah” atau “adalah”.
  • Ingkaran dapat diwujudkan dengan kata “tidak”
  • Bisa diikuti dengan kata-kata aspek atau modalitas, contoh “telah”, “sudah”, “sedang”, “belum”, “akan”, “ingin”, “hendak”, “mau”, dan lain sebagainya.

Objek (O)

Bukan merupakan unsur wajib dalam kalimat. Biasanya letaknya setelah predikat dengan kategori verbal transitif (kalimat aktif transitif) yang minimal memiliki tiga unsur utama (SPO). Dalam kalimat aktif, objek akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Sebaliknya, objek yang ada dalam kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya menjadi kalimat aktif. Secara umum objek berkategori nomina. Contohnya :

  • Laras bermain slime.
  • Zaidan membeli sebuah boneka.
  • Lele itu memakan pelet.

Dalam kalimat di atas, kata slime, sebuah boneka, dan pelet merupaan sebuah objek.

Ciri-ciri objek

  • Berada di belakang predikat.
  • Dapat berubah menjadi subjek dalam kalimat pasif.
  • Tidak didahului dengan preposisi,
  • Diawali dengan kata “bahwa”

Pelengkap

Objek dan pelengkap memiliki kesamaan. Yaitu bersifat wajib ada sebab untuk melengkapi makna verba predikat kalimat, menempati posisi dibelakang predikat serta tidak didahului preposisi. Perbedaan keduanya terletak dalam kalimat pasif. Dalam kalimat pasif, pelengkap tidak menjadi subjek.

Jika ada objek dan juga pelengkap di dalam kalimat aktif, objeklah yang akan menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Contohnya :

  • Gilang selalu ingin berbuat baik.
  • Kaki Aji tersandung pintu.
  • Mukena itu terbuat dari sutra.

Ciri-ciri pelengkap

  • Berada dibelakang kalimat.
  • Tidak didahului preposisi.

Cirinya sama dengan objek. Tetapi objek ada di belakang kalimat, dan pelengkap masih bisa disisipkan dengan unsur lainnya yaitu objek. Contohnya :

  • Anggi mengirimi Sri buku baru.
  • Mereka membelikan Ayahnya sepatu baru.

Kata buku baru dan juga sepatu baru fungsinya sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat.

Keterangan (K)

Adalah unsur kalimat yang menjelaskan lebih lanjut tentang sesuatu dalam sebuah kalimat. Contohnya keterangan akan memberikan informasi mengenai tempat, waktu, cara, sebab, dan juga tujuan. Keterangan juga bisa berwujud kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berwujud frasa ditandai dengan preposisi. Seperti: di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang,oleh, dan untuk.

Keterangan yang berwujud anak kalimat ditandai dengan konjungsi (kata penghubung). Seperti ketika, karena, meskipun,supaya, jika, dan sehingga.

Ciri-ciri keterangan

  • Bukan termasuk ke dalam Unsur Utama (tidak bersifat wajib seperti subjek, predikat, objek dan pelengkap ).
  • Tidak terikat dengan posisi (mempunyai kebebasan tempat diawal/diakhir , atau diantara subjek dan predikat).

Jenis Keterangan

Keterangan Waktu

Keterangan waktu dapat berwujud kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan waktu berupa kata merupakan kata yang menyatakan waktu, contoh: kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan juga malam.

Keterangan waktu berupa frasa adalah untaian kata yang juga menyatakan waktu, contoh: kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan juga minggu depan. Sedangkan keterangan waktu berupa anak kalimat ditandai dengan adanya konjungtor yang juga menyatakan waktu. Contohnya setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.

Contoh kalimatnya :

Bulan depan akan diadakan cuti bersama.

Keterangan Tempat

Keterangan tempat berwujud frasa yang menyebutkan tempat dengan ditandai oleh preposisi, contoh: di, pada, dan juga dalam.

Contoh :

Justin Bieber akan mengadakan konser di New Zealand.

Keterangan Cara

Keterangan cara dapat berwujud kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menjelaskan cara. Keterangan cara yang berwujud kata ulang adalah perulangan adjektiva. Keterangan cara yang berwujud frasa ditandai dengan kata “dengan” atau “secara”. Keterangan cara yang berwujud anak kalimat ditandai dengan kata “dengan” dan “dalam”.

Contoh :

Ibu memotong ikan dengan menggunakan pisau dapur.

Keterangan Sebab

Keterangan sebab berwujud frasa dan anak kalimat. Keterangan sebab yang berwujud frasa ditandai dengan adanya kata “karena” atau “lantaran” yang diikuti dengan nomina atau frasa nomina. Keterangan sebab yang berwujud anak kalimat ditandai dengan adanya konjungtor “karena” atau “lantaran”.

Contoh :

Bapak menyuruhku menjauhi Gilang karena tidak berperilaku baik.

Keterangan Tujuan

Keterangan tujuan dapat berupa frasa ataupun anak kalimat. Keterangan tujuan yang berwujud frasa ditandai dengan kata “untuk” atau “demi”.Sementara keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai dengan adanya konjungtor supaya, agar, dan untuk.

Contoh :

Sebelum berangkat ke Jakarta, Gilang memeluk ibunya supaya hatinya tenang.

Keterangan Aposisi

Keterangan aposisi akan memberikan penjelasan nomina, contoh: subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan aposisi diapit dengan tanda koma, tanda pisah (–), atau tanda kurang.

Baca Juga :  Verba Transitif Dan Intransitif - Pengertian, Bentuk Kata Kerja Beserta Contohnya Lengkap

Contoh :

Dosen saya, Bapak Sudarso, terpilih menjadi dosen teladan.

Keterangan Tambahan

Keterangan tambahan akan memberikan penjelasan nomina (subjek ataupun objek. Namun berbeda halnya dengan keterangan aposisi. Keterangan aposisi bisa menggantikan unsur yang diterangkan. Sementara keterangan tambahan tidak bisa menggantikan unsur yang diterangkan.

Contoh :

Gilang, mahasiswa tingkat dua, mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Keterangan Pewatas

Keterangan pewatas ini akan memberikan pembatas antara nomina. Contoh: subjek, predikat, objek, keterangan, dan juga pelengkap. Jika keterangan tambahan bida dihilangkan, maka keterangan pewatas ini tidak dapat dihilangkan.

Contoh :

Mahasiswa yang mendapatkan IP tiga lebih akan mendapatkan beasiswa penuh.

Struktur Kalimat

Seluruh kalimat yang biasanya kita gunakan, beberapa diantaranya berasal dari struktur/pola kalimat dasarnya saja. Sesuai dengan kebutuhan setiap individu, kalimat dasar itu dikembangkan berdasarkan kaidah yang berlaku. Pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia, yaitu :

Kalimat dasar berpola SP

Kalimat dasar berpola SP hanya memiliki dua unsur yakni subjek dan predikat. Pada umumnya, predikat dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, maupun kata bilangan.

Contoh :

Mobil itu besar

Mobil itu sebagai subjek, dan besar sebagai predikat.

Kalimat dasar berpola SPO

Pola kalimat SPO biasa digunakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh :

Gilang mengemudikan mobil.

Gilang sebagai subjek, mengemudi sebagai predikat, dan mobil sebagai objek.

Kalimat dasar berpola SPPel

Contoh :

Keluarganya pergi liburan.

Keluarganya merupakan subjek, pergi sebagai predikat, dan liburan sebagai pelengkap.

Kalimat dasar berpola SPOPel

Contoh :

Supir taxi mengemudikan taxinya ugal-ugalan.

Supir taxi sebagai subjek, mengemudikan sebagai predikat, taxinya sebagai objek, dan ugal-ugalan sebagai pelengkap.

Kalimat dasar berpola SPK

Contoh :

Gilang bermain malam hari.

Gilang sebagai subjek, bermain sebagai predikat, dan malam hari sebagai keterangan.

Kalimat dasar berpola SPOK

Contoh :

Setiawan mencuci bajunya pagi tadi.

Setiawan sebagai subjek, mencuci sebagai predikat, bajunya sebagai objek, pagi tadi sebagai keterangan.

Kalimat dasar berpola S-P-O-Pel-K

Kalimat dasar dengan pola ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan juga keterangan. Subjek dapat berwujud nomina atau frasa nominal, predikat berwujud verba dwitransitif, objek berwujud nomina atau frasa nominal, pelengkap berwujud nomina atau frasa nominal serta keterangan berwujud frasa berpreposisi.

Contoh :

Bapak membelikan Gilang sepatu olahraga di Moro Mall.

Kalimat dasar berpola  S-P-Pel-K.

Kalimat dasar dengan menggunakan pola ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap serta keterangan. Dalam pola ini, subjek berwujud nomina atau frasa nominal, predikat berwujud verba intransitif, kata sifat serta pelengkap berwujud nomina atau adjektiva dan juga keterangan berwujud frasa berpreposisi.

Contoh :

Aku sedih ketika kamu masuk rumah sakit.

Jenis Kalimat

1. Kalimat Dilihat dari Segi Maknanya

Dibagi kembali menjadi lima kategori. Diantaranya :

  • Kalimat Berita

Adalah kalimat yang isinya memberitakan tentang informasi kepada pembaca/pendengar. Bila kita bercerita tentang kecelakaan maka kita sedang memberitahu kejadian itu. Contohnya :

  1. Tadi pagi ada kecelakaan di depan sekolah.
  2. Kecelakaan yang terjadi tadi pagi mengakibatkan kemacetan yang cukup parah.
  3. Banjir yang terjadi di Pekalongan tingginya hingga selutut orang dewasa.
  4. Terjadi kebakaran di daerah Jakarta Timur.
  • Kalimat Perintah

Adalah imperatif yang merupakan kalimat yang artinya mampu memberi perintah dalam melakukan suatu hal. Secara umum kalimat perintah berbentuk taktransitif atau transitif (baik aktif maupun pasif). Kalimat yang predikatnya adjektiva juga bisa berbentuk perintah, tergantung macam adjektivanya. Sebaliknya, bila kalimat bukan verbal/adjektiva tak memiliki bentuk perintah. Contohnya :

  1. Buatlah suatu kalimat dengan pola SPOK!
  2. Tutuplah pintu itu!
  • Kalimat Perintah Taktransitif

Kaidah dalam membuat kalimat perintah taktransitif, yaitu :

  1. Menghilangkan subjek, biasanya dapat berupa pronomina persona kedua.
  2. Mempertahankan bentuk verba seperti apa adanya.
  3. Menambhakan partikel –lahjika dikehendaki untuk sedikit memperhalus isinya.

Contohnya :

  1. Kamu berjalan kakilah sekali-kali!
  2. Naiklah sepeda sekali-kali!
  3. Berliburlah ketempat nenekmu!
  • Kalimat Perintah Transitif Aktif

Kaidah yang dipakai dalam membuat kalimat perintah yang verbanya transatif aktif mirip dengan kaidah yang dipakai pada kalimat perintah traktransitif kecuali tentang bentuk verbanya. Pada kalimat transitif, verbanya harus diubah dalam bentuk perintah lebih dulu dengan menanggalkan prefiks meng- dari verbanya. Contohnya :

  1. Kamu Mencari pekerjaan apa saja (kalimat berita).
  2. Carilah pekerjaan apa saja (kalimat perintah).
  3. Kamu membelikan adikmu tas baru (kalimat berita).
  4. Belikanlah adikmu sepatu baru (kalimat perintah).
  • Kalimat Perintah Bentuk Pasif

Kalimat ini juga bisa disampaikan dalam bentuk pasif. Bentuk verba yang dipakai masih tetap dalam keadaan pasif, dan urutan katanya tak berubah. Bila dituliskankalimatnya akan disertai penggunaan tanda seru (!). Sementara jika diucapkan, maka nada yang digunakan cenderung naik. Contohnya :

  1. Kontrak itu harus dikirim sekarang!
  2. Surat harus diketik serapi-rapinya, ya!

Penggunaan kalimat dalam bentuk pasif pada bahasa Indonesia sangat umum digunakan. Hal itu berkaitan dengan keinginan pembicara dalam meminta seseorang melakukan sesuatu untuknya.

Penghalus Kalimat Perintah

Selain kalimat yang bentuknya pasif, masih ada juga sejumlah kata yang dipakai dalam menghaluskan perintah. Contohnya coba, tolong, dan silahkan yang seringkali digunakan.

Bentuk Ingkar pada Kalimat Perintah

Kalimat perintah juga bisa dibuat menjadi bentuk ingkar dengan menggunakan kata jangan. Misalnya kata “tolong” dan “coba”, kata “jangan” juga diimbuhi dengan partikel -lah di dalam kalimat perintah. Contohnya :

  • Janganlah membuang sampah sembarangn.
  • Janganlah dekat-dekat dengan tiang listrik itu.

Kalimat Tanya

Kalimat tanya biasa disebut dengan kalimat interogatif yang isinya kalimat dengan maksud untuk menanyakan sesuatu/seseorang. Bila seseorang ingin mengetahui jawaban dari sesuatu, maka ia akan bertanya pada orang dengan kalimat tanya.

Baca Juga :  Kalimat Efektif : Pengertian, Syarat, Ciri-Ciri Dan Contohnya Lengkap

Berikut ini lima cara yang dipakai dalam membentuk kalimat tanya :

  1. Menambahkan kata apa-kah.
  2. Membalikan urutan katanya.
  3. Menggunakan kata “bukan” atau “tidak”.
  4. Mengubah intonasi kalimat.
  5. Dengan menggunakan kata tanya.

Kalimat Seru

Kalimat ini biasa disebut dengan kalimat interjektif, yaitu kalimat yang menunjukkan rasa kagum pada sesuatu. Sehingga kalimat ini menggunakan tanda seru.

Berdasarkan Diathesis Kalimat

Kalimat Aktif

Adalahh kalimat yang dimana subjeknya langsung melakukan pekerjaan pada objeknya. Secara umum kata kerja dipakai dengan ditandai awalan me-. Tapi tak sedikit kalimat aktif yang disertai dengan imbuhan, contohnya makan dan minum. Contoh kalimatnya :

Gilang menggunakan botol untuk menciptakan suara.

Kalimat Pasif

Pada kalimat pasif kata kerja yang dipakai adalah menggunakan kata di- atau ter-. Contoh kalimatnya :

Bangunan disana dikerjakan dengan sangat baik oleh para arsitektur ternama.

2. Berdasarkan Urutan Kata

Kalimat Normal

Adalah kalimat yang berpola dasar yang dimana subjek pada kalimatnya mendahului predikat.

Kalimat Inverse

Adalah kalimat kebalikan dari kalimat normal. Yang dimana predikat yang dipakai mendahului objek.

Kalimat Minor

Kalimat ini mempunyai satu inti fungsi gramatikalnya. Contohnya kalimat tambahan, kalimat jawaban, kalimat salam, panggilan ataupun judul.

Kalimat Mayor

Kalimat mayor hanya memiliki subjek dan predikat saja. Objek, pelengkap dan juga keterangan dapat ditambahkan sesuka hati. Sama halnya dengan yang ada di pola dasar pertama.

3. Berdasarkan Struktur Gramatikalnya

Kalimat Tunggal

Pada kalimat tunggal hanya memiliki subjek dan predikatnya saja. Bila dilihat pada unsur penyusunannya, maka kalimat panjang dalam bahasa Indonesia bisa diubah ke dalam bentuk yang paling sederhana.

Contohnya : Ibu-ibu bersalaman

Dapat kita lihat, pola kalimat di atas hanya memiliki subjek dan predikat saja, sehingga dapat dikategorikan ke dalam kalimat tunggal.

Kalimat Majemuk

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggabungkan beberapa pertanyaan ke dalam satu kalimat untuk memudahkan dalam hal berkomunikasi. Sehingga nantinya akan menghasilkan penggabungan pada struktur kalimat yang ada kalimat dasar di dalamnya. penggabungan itulah yang disebut dengan kalimat majemuk. Jenis-jenis kalimat majemuk diantaranya yaitu :

Kalimat Majemuk Setara

Struktur dari kalimat majemuk setara memiliki dua atau lebih kalimat tunggal yang apabila dipisahkan dapat berdiri sendiri.

Kata penghubung atau konjungsi yang digunakan kalimat majemuk setara pada umumnya menggunakan kata dan, serta, tanda koma (,), tetapi, lalu, kemudian, atau.

Contoh kalimat majemuk setara : Indonesia tergolong negara berkembang tetapi Singapura telah digolongkan negara maju.

Kalimat Majemuk Bertingkat

Dalam kalimat ini terdapat dua kalimat yang satunya menjadi induk kalimat yang bisa berdiri sendiri atau bebas, dan anak kalimat kebalikan dari induk kalimat. Kata penghubung atau konjungsi yang digunakan kalimat majemuk bertingkat yakni ketika, sejak, karena, oleh sebab itu, hingga, sehingga, maka, jika, asalkan, apabila, meskipun, walaupun, andai kata, seandainya, agar supaya, seperti, kecuali, dengan.

Contoh kalimat majemuk bertingkat: Ilmuwan masih saja mencari asal usul bulan (induk kalimat) meskipun hingga sekarang masih belum ada kepastian yang jelas (anak kalimat).

Kalimat Majemuk Campuran

Adalah dua jenis kalimat majemuk yaitu setara dan bertingkat yang digabungkan menjadi satu kalimat. Contohnya : Sebab hujan turun dengan derasnya, mereka tidak dapat pulang dan menunggu di sekolah.

4. Berdasarkan Unsur Kalimat

Kalimat Lengkap

Kalimat ini akan mengikuti pola dasar dari suatu kalimat, baik yang telah dikembangkan ataupun yang tidak. Penggunaan unsurnya jelas hingga mudah dipahami. Contohnya : Warna hijau melambangkan kesuburan.

Kalimat tidak Lengkap

Kalimat tak lengkap hanya memiliki satu unsur. Pada umumnya jenis kalimatnya seperti semboyan, salam, perintah, pertanyaan, ajakan, jawaban, setuan, larangan, sapan dan lain sebagainya.

Contoh kalimat tidak lengkap : Kapan pulang?

5. Berdasarkan Pengucapan

Kalimat Langsung

Secara detail, kalimat langsung ini bisa menirukan sesuatu yang disampaikan oleh orang lain. Tanda baca kutip juga dipakai dalam kalimat langsung. Kutipannya berupa kalimat tanya, berita atau perintah.

Contoh kalimat langsung : “Letakkan sapumu!” bentak pak satpam.

Kalimat Tak Langsung

Adalah kalimat yang melaporkan kembali tentang kalimat yang disampaikan oleh orang lain. Kutipannya berupa berita. Contoh kalimat tak langsung : Bapak Gilang berkata padaku bahwa lebih baik membaca daripada main-main.

Fungsi Kalimat

  • Subjek

Adalah pokok kalimat. Fungsinya yaitu dapat dicari dengan pertanyaan “Siapa/Apa yang dibicarakan oleh kalimat ini?” Subjek berjenis kata benda atau frasa benda, karena definisi subjek merupakan sesuatu yang disebutkan oleh kalimat.

  • Predikat

Adalah keterangan langsung terhadap suatu subjek. Predikat bisa ditemukan dengan pertanyaan “Ada apa dengan subjek? Apa yang dilakukan subjek? Bagaimana keadaan subjek?”

  • Objek

Adalah bagian dari kalimat yang dapat diubah mengjadi subjek, caranya dengan dipasifkan/diaktifkan. Objek dapat ditemukan dengan cara memastikan/mengaktifkan kalimat. Bagian yang berubah dari subjek adalah objeknya.

  • Keterangan

Adalah bagian dari sifatnya yang menjelaskan.

Ciri keterangan yaitu bisa berpindah dengan melewati subjek/predikat, tanpa mengubah makna kalimat tersebut.

  • Pelengkap

Pelengkap bentuknya menyerupai objek.

Adapun ciri pelengkap yakni tidak bisa dipindahkan atau melompati subjek dan predikat serta tidak dapat diubah menjadi subjek.

Demikian penjelasan lengkap dari Pengertian Kalimat yang dimulai dari pengertian hingga fungsinya. Semoga informasi ini membantu anda dalam memahami kalimat dan cara membuatnya. Dan semoga bermanfaat.

Baca Juga :