Suku Minangkabau – Agama, Adat Budaya, Matrilineal, Bahasa, Kesenian, Olahraga Dan Pakaian Adatnya

7 min read

Suku Minangkabau – Agama, Adat Budaya, Matrilineal, Bahasa, Kesenian, Olahraga Dan Pakaian Adatnya Lengkap

Suku Minangkabau – Minangkabau atau Minang adalah kelompok etnis di Nusantara yang berbahasa sekaligus juga menjunjung tinggi nilai adat Minangkabau. Suku Minangkabau menjadi salah satu suku yang paling besar dan paling terkenal di Indonesia, yang letaknya di Sumatera Barat.

Suku Minangkabau

Wilayah kebudayaan Minangkabau meliputi daerah bagian Sumatera Barat, separuh di daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, serta Negeri Sembilan di Malaysia.

Orang Minang sering disebut dengan Orang Padang karena Ibukota Provinsi Sumatera Barat adalah Padang. Namun warga minang biasanya akan menyebut kelompok etnisnya dengan sebutan urang awak, yang merujuk pada orang minang itu sendiri.

Suku Minangkabau telah menerapkan sistem proto-demokrasi, sejak masa pra-Hindu dengan munculnya kerapatan adat yang tujuannya yaitu menentukan hal penting untuk suku dan permasalahan hukum di dalamnya.

Prinsip dari Suku Minangkabau yang telah tertuang secara singkat di dalam pernyataan Adat basandi syarak (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang memiliki arti adat dengan landasan ajaran agama Islam.

Suku Minangkabau juga sangat menonjol di bidang perdagangan, secara profesional dan intelektual. Orang Minang adalah pewaris utama dan terhormat, dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang dahulu gemar dalam kegiatan berdagang serta dinamis. Selain itu, hampir seluruh total keanggotaan keluarga berada dalam perantauan.

Suku Minangkabau

Nama dari Minangkabau bersala dari dua kata, yakni minang dan kabau. Nama ini dihubungkan dengan legenda khas Minang yang disebut dalam tambo. Dalam tambo disebutkan bahwa tambo diterima secara turun temurun, dan mengisahkan nenek moyang Suku Minangkabau yang berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain.

Walaupun tambo tak tersusun secara sistematis, karena isinya lebih menonjol pada legenda yang tak sesuai dengan fakta dan cenderung merujuk pada karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.

Kisah tambo banyak dibandingkan dengan kisah Sulalatus Salatin yang juga di dalamnya menceritakan mengenai bagaimana rakyat minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba. Yang merupakan  salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain untuk menjadi raja mereka.

Masyarakat suku minang merupakan salah bagian dari rakyat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan menuju pulau Sumatera sekitar tahun 2.500 – 2.000 yang lalu.

Kelompok etnis ini masuk dari arah timur Pulau Sumatera lalu menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi, yang disebut dengan darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau. Beberapa wilayah darek tersebut kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan sebutan luhak, lalu dikenal juga dengan nama Luhak Nan Tigo.

Konfederasi tersebut terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, serta Luhak Tanah Data. Pada masa pemerintahan Belanda daerah Luhak menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut dengan afdeling. Daerah itu dikepalai oleh seorang Residen yang disebut dengan Tuan Luhak oleh masyarakat Suku Minangkabau.

Baca Juga :  Zaman Neolitikum : Pengertian, Ciri, Kebudayaan, Corak, Kepercayaan, Dan Peninggalannya Lengkap

Awalnya sebutan orang Minang sama dengan orang Melayu, tetapi sejak abad ke 19 penyebutan kata Minang dan Melayu dibedakan dan dilihat dari budaya matrilineal yang tetap bertahan dan berbanding dengan patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu pada umumnya.

Sehingga pengelompokkan itu terus berlangsung sampai sekarang demi kepentingan sensus penduduk atau politik.

Agama Suku Minangkabau

Agama dari Suku Minangkabau adalah Islam, dan jikalau ada salah seorang dari rakyat minang keluar dari agama islam maka orang itu dianggap keluar dari masyarakat Suku Minangkabau. Istilahnya dibuang di sepanjang adat.

Adat dan Budaya Suku Minangkabau

Di dalam tambo disebutkan bahwa sistem yang dipakai Suku Minangkabau yang pertama kali dicetuskan oleh dua orang yang bersaudara, yang bernama Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Datuk Ketumanggungan mewariskan sistem adat Koto Piliang yang bercorak aristokratis, sedangkan untuk Datuk Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago yang bercorak egaliter. Dalam perjalanan suku Minang kedua sistem adat dikenal selaras serta saling mengisi, dan membentuk sistem masyarakat Minangkabau.

Dalam suku Minang, terdapat tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat suku Minang. Ketiga pilar ini disebut dengan  alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang juga dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan. Ketiga pilar ini saling mengisi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tinggi.

Di dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan bercorak egaliter, seluruh urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur tersebut dengan cara mufakat.

Matrilineal

Sampai saat ini masyarakat Minangkabau termasuk masyarakat penganut matrilineal yang terbesar di dunia. Matrilineal adalah salah satu aspek utama yang mengidentifikasikan identitas rakyat Minang itu sendiri. Adat serta budaya suku Minang menempatkan pihak perempuan sebagai pewaris harta pusaka dan juga kekerabatan.

Garis keturunan merujuk pada ibu yang dikenal dengan nama Samande (se-ibu), sedangkan ayah disebut dengan nama Sumando (ipar) oleh rakyat minang serta diperlakukan layaknya tamu di dalam kelurga. Kaum perempuan dalam suku Minang memiliki keistimewaan hingga dijuluki Bundo Kanduang. Kaum perempuan juga berperan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), serta penghulu (kepala suku).

Karena pengaruhnya yang besar itulah yang menjadikan kaum perempuan rakyat minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah). Meskipun kekuasaan suku Minang sangat dipengaruhi oleh penguasaan pada aset ekonomi, tapi kaum lelaki dari pihak perempuan masih memegang otoritas dan memiliki legitimasi kekuasaan dalam komunitasnya.

Bahasa Suku Minangkabau

Bahasa dari suku minang termasuk ke dalam salah satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia. Namun terdapat perbedaan antara bahasa Minang dan Melayu. Ada yang menyebutkan bahwa dialek bahasa suku Minang bagian dari dialek Melayu, karena mempunyai banyak kesamaan dalam kosakata serta bentuk tuturan di dalamnya.

Tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa bahasa suku Minang adalah bahasa mandiri dan tak ada sangkut pautnya dengan bahasa Melayu. Ada pula yang menyebutkan bahwa bahasa Minang adalah bahasa Proto-Melayu.

Terlepas dari itu semua, dialek bahasa Minang tergantung pada daerahnya masing-masing. Bahasa Minang juga mendapat pengaruh dari bahasa lainnya. Pengaruh bahasa lain itu misalnya dari bahasa Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia.

Kosakata dari bahasa Sansekerta dan Tamil juga bisa kita temukan di beberapa prasasti di Minangkabau, yang sudah tertulis memakai beragam aksara seperti misalnya Dewanagari, Pallawa, danKawi. Semakin menguatnya pengaruh agama Islam yang diterima secara luas, juga mendorong masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisannya. Sebelum beralih dengan alfabet latin.

Baca Juga :  Beberapa Peninggalan Sejarah Islam Beserta Penjelasannya Lengkap

Kesenian Suku Minangkabau

Etnis Minang juga memiliki berbagai macam atraksi seni, seperti upacara adat, tari-tarian pengiring pesta dalam perkawinan dan sebagainya. Adapun beberapa tarian dari etnis minangkabau yaitu:

  1. Tari Pasambahan
  2. Tari Piring
  3. Silek atau Silat Minangkabau
  4. Randai
  5. Salawat Dulang

Selain itu suku Minang juga terkenal dalam seni berkata-kata. Ada tiga macam genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-kata ini akrab dengan istilah bersilat lidah yang lebih mengedepankan sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme.

Dalam seni berkata-kata, juga seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri tanpa menggunakan senjata atau kontak fisik.

Olahraga Suku Minangkabau

Suku Minangkabau juga miliki olahraga tradisional yang hingga kini masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat minang dan juga wisatawan yang datang ke minang, olaharaga tersebut diantaranya:

  1. Pacuan Kuda
  2. Lomba pacu jawi
  3. Pacu itik
  4. Sipak rago atau akrab disebut sebagai sepak takraw

Rumah Adat Suku Minangkabau

Rumah adat Suku Minangkabau adalah Rumah Gadang.

Perkawinan Suku Minangkabau

Prosesi perkawinan masayarakat Suku Minangkabau disebut juga dengan baralek, yang umumnya memiliki beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

  1. Maminang (meminang)
  2. Manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria)
  3. Basandiang (bersanding di pelaminan).

Masakan khas Suku Minangkabau

Suku Minang juga memiliki makanan khas yang menggugah selera dan sudah populer di Indonesia, yaitu masakan Padang. Bukan hanya oleh Rakyat Indonesia tapi juga oleh mancanegara. Masakan Padang yang paling terkenal yaitu Rendang, dan makanan khas lainnya yaitu Asam Pedas, Soto Padang, Sate Padang, dan Dendeng Balado.

Sosial Kemasyarakatan

Persukuan

Suku yang ada dalam tatanan kehidupan masyarakat Minang adalah basis dari organisasi sosial yang sekaligus juga tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Arti suku dalam bahasa Minang adalah satu perempat, sehingga bila disambungkan dengan pendirian Nagari di Minangkabau maka bisa disebut sempurna jika sudah terdiri atas komposisi empat suku yang mendiami kawasan itu.

Dalam setiap tradisi suku Minang, diurutkan juga garis keturunan yang sama dari pihak Mamak/Ibu. Dan dipercaya juga berasal dari satu keturunan Nenek Moyang yang sama. Suku dalam Minangkabau terbagi dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil, dan biasanya disebut Payuang atau Payung.

Unit yang lebih kecil dari Payung adalah Saparuik. Paruit atau perut secara umum tinggal dalam sebuah rumah gadang secara bersama-sama.

Nagari

Kawasan suku Minang terdiri dari banyak Nagari. Nagari adalah daerah otonom yang mempunyai kekuasaan tertinggi di kawasan Minangkabau. Tak ada kekuasaan politik atau sosial yang bisa mencampuri urusan adat dari sebuah Nagari. Nagari yang tak sama sangat mungkin jika mempunyai tipikal adat yang berbeda.

Di setiap nagari yang dipimpin oleh sebuah dewan terdiri dari pimpinan suku dari seluruh suku yang ada di nagari tersebut. dewan ini disebut dengan nama Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dari hasil musyawarah mufakat dalam dewan itulah muncul keputusan dan peraturan yang mengikat nagari tersebut.

Penghulu

Biasanya penghulu dalam suku Minang memiliki gelar Datuk, yang merupakan kepala dari keluarga yang diangkat oleh seluruh anggota dalam mengatur setiap permasalahan dalam keluarga tersebut. secara umum penghulu adalah pria yang sudah terpilih, diantara anggota keluarga yang lainnya.

Di setiap keluarga, nantinya akan dipilih salah seorang lelaki yang pandai berbicara, bijaksana dan memahami adat. Klasifikasi itu tentu mempunyai alasan, karena seseorang yang sudah terpilih nantinya akan bertanggung jawab dalam mengurus segala hal dari harta pusaka, membimbing kemenakan, dan juga sebagai wakil kaum dalam masyarakat nagari.

Baca Juga :  Kisah Perjalanan Hidup Nabi Muhammad dari Lahir Hingga Wafat "Lengkap"

Setiap penghulu akan berdiri sejajar dengan penghulu yang lainnya, hingga dalam beberapa rapat nagari seluruh penghulu yang mewakili setiap keluarga memiliki nilai yang sama.

7 Unsur Kebudayaan Suku Minangkabau

Bahasa

Bahasa Minangkabau atau Baso Minang merupakan suatu Austranesia yang telah digunakan oleh suku Minangkabau sejak awal berdiri.

Sistem Teknologi

Contoh sistem teknologi dalam suku Minang ada pada bentuk rumah adatnya dan bentuk desanya. Nigari adalah nama desa dalam bahasa Minang, Nigari juga merupakan kediaman utama yang bisa dianggap sebagai pusat desa. Rumah Gadang juga memiliki bentuk yang memanjang dan atapnya miring dengan tanduk kerbau.

Sistem Mata Pencaharian

Mayoritas suku Minang bermata pencaharian bercocok tanam, bagi rakyat yang tinggal di laut/danau hidup melalui pelayaran. Ada pula masyarakat Minang yang hidup dengan mengandalkan kerajinan tangan.

Pariuk, kampuang, serta suku merupakan kelompok kekerabatan masyarakat yang ada di suku Minangkabau. Etnis dipimpin oleh seorang penghulu suku, dan Kampuang dipimpin oleh Penghulu Andiko atau Datuk Kampuang. Tanggung jawab dalam hal pembiayaan acara perkawinan seluruhnya dilimpahkan pada pihak perempuan, karena suku Minang menganut sistem Matrilineal. Dalam suku Minangkabau juga tak dilarang poligami.

Sistem Pengetahuan

Dalam usia tujuh tahun anak laki-laki Minang sudah meninggalkan rumah dan tinggal di Surau atau di tempat belajar mereka, dan mereka belajar tentang adat Minangkabau serta ilmu agama Islam. Dan saat mereka dewasa, akan meninggalkan kampung dan menimba ilmu di luar kampung/desa.

Tujuannya yaitu agar menjadi dewasa dan bertanggung jawab pada keluarga saat pulang ke kampung/nagari.

Sistem Religi

Hampir seluruh dari anggota suku minang memeluk agama islam.

Kesenian

Beberapa kesinian tradisional Minangkabau diantaranya sebagai berikut:

  • Randai, suatu teater yang berisi music, tarian, drama, dan pencak silat.
  • Talempong
  • Saluang Jo Dendang
  • Tari Piring
  • Tari Payung
  • Tari Indang
  • Pidato Adat (Sambah Manyambah)
  • Pencak SIlat

Perayaan dan upacara Minagkabau :

  • Turun mandi – pemberkatan bayi
  • Sunat rasul – upacara sunatan
  • Baralek – upacara pernikahan
  • Batagak pangulu – pelantikan penghulu (pemimpin suku atau desa)
  • Turun ka sawah – gotong royong
  • Hari rayo – idul fitri dan idul adha
  • Maanta pabukaan – mengantar makanan untuk ibu mertua pada saat Ramadan
  • Tabuik – perayaan di pariaman
  • Tanah ta sirah – pelantikan datuak
  • Mambangkik batang tarandam – pelantikan datuak

Kesenian kerajinan tangan Minangkabau :

  • Kain Songket

Tenun dengan corak rumit yang ditenun dengan tangan dari benang emas atau perak yang dipakai oleh bangsawan :

  • Sulaman
  • Pahatan emas dan perak
  • Ukiran kayu

Kerajaan Suku Minangkabau

  1. Kerajaan Dharmasraya
  2. Kerajaan Pagaruyung
  3. Kerajaan Inderapura.

Pakaian Adat Suku Minangkabau

Baju Adat Sumatera Barat

Baju adat Minangkabau yang sudah dikenal di dalam kancah nasional bernama pakaian Bundo Kanduang atau juga disebut dengan Limpapeh Rumah Nan Gadang. Keunikan utamanya ada pada tutup kepala yang bentuknya menyerupai bentuk tanduk kerbau, atau dari atap Rumah Gadang.

Pakaian Bundo Kanduang merupakan pakaian adat Minangkabau yang dipakai oleh kaum perempuan yang sudah menikah. Dan untuk kaum pria atau sepasang pengantin, ada juga pakaian adat yang lainnya.

Baju Adat Minangkabau Wanita

  1. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang
  2. Tingkuluak (Tengkuluk)
  3. Baju Batabue
  4. Lambak
  5. Salempang
  6. Perhiasan

Baju Adat Tradisional Pria Minangkabau

  1. Deta
  2. Baju
  3. Sarawa
  4. Sasampiang
  5. Cawek
  6. Sandang
  7. Keris dan Tongkat

Demikianlah pembahasan lengkap tentang suku Minangkabau, mulai dari agama hingga pakaian adatnya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda mengenai salah satu suku dari Indonesia ini, dan berguna bagi anda semua.

Baca Juga :