Zaman Paleolitikum : Pengertian, Ciri, Kehidupan, Kebudayaan, Kepercayaan, Dan Peninggalannya Lengkap

Posted on

Zaman Paleolitikum : Pengertian, Ciri, Kehidupan, Kebudayaan, Kepercayaan, Dan Peninggalannya Lengkap

Zaman Paleolitikum – Sebelum kita sampai ke zaman modern, dulu manusia sempat mengalami zaman praaksara atau bisa juga disebut dengan zaman batu. Disebut zaman batu karena dulu hampir semua peralatan yang digunakan adalah terbuat dari batu. Selain batu, ada juga peralatan lainnya seperti kayu, bambu, ataupun tulang. Karena terbuat dari kayu/bambu maka jarang ditemukan fosil yang dibuat dari benda-benda itu.

Zaman Paleolitikum

Zaman praaksara terdiri dari empat periode, diantaranya ialah sebagai berikut:

  1. Zaman paleolitikum
  2. Zaman mesolitikum
  3. Zaman megalitikum
  4. Zaman neolitikum.

Zaman paleolitikum adalah zaman batu tua, Zaman mesolitikum merupakan zaman batu madya atau tengah. Zaman megalitikum merupakan zaman batu besar. Serta zaman neolitikum merupakan zaman yang mempunyai revolusi besar.

Berikut ini penjelasan lengkap tentang zaman paleolitikum.

Pengertian Zaman Paleolitikum

Zaman paleolitikum atau zaman batu tua berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Yaitu di awal pleiston. Dan berdasarkan temuan di zaman ini, manusia di zaman Paleolitikum memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara berburu. Dan mengelompok dengan meracik makanan, dengan cara yang sangat sederhana.

Manusia Purba Zaman Paleolitikum

Dengan ditemukan berbagai jenis fosil manusia purba menjadikan bukti bahwa zaman paleolitikum yang pernah ada di bumi, diperkirakan umurnya sekitar lebih dari 1 juta tahun yang lalu. Tiga jenis manusia yang hidup di zaman paleolitikum yaitu :

  1. Homo Wajakensis
  2. Meganthropus paleojavanicus
  3. Homo Erectus dan Homo Soliensis
Baca Juga :  Biografi Ki Hajar Dewantara Seorang Pahlawan Indonesia

Ciri Ciri Zaman Paleolitikum

  1. Hidupnya berpindah-pindah atau nomaden. Karena manusia belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Di waktu itu, tempat tinggal mereka adalah padang rumput, Goa, dan tempat yang dekat dengan sumber air seperti sungai atau laut. Karena air bisa dijadikan sumber air minum, makanan, dan juga sarana transportasi yang menuju ke tempat lainnya.
  2. Memiliki kelompok kecil yang tujuannya yaitu untuk mempermudah pergerakan dalam hal mencari makanan.
  3. Bergantung pada alam sekitarnya.
  4. Memakai peralatan yang juga sederhana, alatnya masih bertekstur kasar misalnya kapak genggam yang fungsinya untuk memotong, menggali dan menguliti binatang.
  5. Menggunakan bahasa yang sederhana.

Manusia yang hidup di zaman ini berdasarkan fosil yang ditemukan adalah jenis Pithecanthropus Erectus yang berjalan tegap atau tegak, Meganthropus paleojavanicus, Homo Wajakensis, dan Homo Soliensis. Fosil yang ditemukan berada di aliran sungai Bengawan Solo.

Kehidupan Sosial Ekonomi

  1. Menggunakan sistem food gathering atau berburu dalam mengumpulkan serta mencari makanan.
  2. Hidupnya berpindah atau nomaden. Dan mereka akan terus berpindah untuk mencari makanan yang cukup.
  3. Tinggal di dekat sumber air. Karena hewan yang diburu juga selalu tinggal di dekat sumber air. Sumber air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan yang lainnya.

Kebudayaan Zaman Paleolitikum

Berdasarkan temuan yang dilakukan oleh para arkeolog, di zaman paleolitikum terdapat dua macam kebudayaan Indonesia. Seperti :

1. Kebudayaan Pacitan

Penemuan kapak genggam dan peralatan batu oleh Von Koenigswald. Pada tahun 1935 di daerah Pacitan adalah tanda kebudayaan Pacitan yang ikut serta melengkapi zaman paleolitikum. Dalam kebudayaannya kapak masih sangat kasar, yang disebut dengan kapak penetak. Bukan hanya di Pacitan tapi alat itu juga ditemukan di Gombang dan Progo (Jawa Tengah), Suka Bumi, dan Lahat.

2. Kebudayaan Ngandong

Baca Juga :  Kolonialisme Dan Imperialisme : Pengertian, Perbedaan, Dan Dampaknya Lengkap

Keberadaan dari kebudayaan Ngandong ditandai dengan temuan alat-alat yang bahan dasarnya tulang, alat penusuk berbahan tanduk rusa, flakes, dan juga ujung tombak yang ditemukan di daerah Ngandong serta Sidoarjo.

Bukan hanya itu saja, beberapa alat yang ukurannya kecil dan bahan dasarnya bebatuan yang indah juga ditemukan di daerah dekat Sangiran. Benda itu disebut juga dengan Serbih Pilah. Penanaman lukisan telapak tangan yang berwarna merah dan juga lukisan babi hutan di dinding Gua yang mendukung keberadaan Ngandong. Lukisan tersebut ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan).

3. Kepercayaan Pada Zaman Paleolitikum

Sistem kepercayaan yang dianut oleh manusia di zaman paleolitikum adalah animisme dan dinamisme, yaitu pemujaan pada roh nenek moyang. Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda mempunyai roh. Hal itu dibuktikan dengan adanya tulang belulang manusia yang sudah mati di dalam Gua.

Dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Hal itu juga dibuktikan dengan adanya menhir. Dan pemujaan pada roh nenek moyang adalah kepercayaan bahwa setiap orang yang meninggal akan menuju ke alam atau tempat yang lebih baik.

Manusia paleolitikum juga yakin bahwa segala kejadian yang terjadi dikarenakan oleh marahnya roh nenek moyang. Contohnya saat terjadi gunung meletus, maka mereka yakin penunggu gunung sedang marah. Atau saat gempa bumi terjadi, mereka percaya bahwa penunggu tanah juga sedang marah.

Peninggalan Zaman Paleolitikum

Peralatan yang digunakan di zaman ini masih sangat sederhana. Mereka membuat peralatan dengan cara memukul batu ke batu lainnya yang lebih keras, hingga nantinya akan menghasilkan serpihan yang lain yang lebih kecil lagi. Berikut ini peninggalan dari zaman paleolitikum :

Kapak Genggam

Kapak genggam ini banyak ditemukan di daerah Pacitan dan biasa disebut sebagai “chopper” (alat penetak/pemotong). Disebut dengan kapak genggam karena bentuknya yang menyerupai kapak tapi tak mempunyai tangkai/pegangan, hingga cara menggunakannya pun adalah dengan menggenggam.

Baca Juga :  Sejarah dan Perkembangan Permusikan Eropa Lengkap

Cara membuat kapak ini adalah dengan memangkas salah satu bagian dari batu sampai tajam, dan sisi yang lainnya dibiarkan begitu saja.

Fungsi kapak genggam ini yaitu sebagai alat untuk menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.

Kapak Perimbas

Fungsi dari kapak perimbas adalah untuk merimbas kayu, memahat tulang, serta digunakan sebagai senjata. Alat ini juga ditemukan di daerah Pacitan, selain itu alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), Lahat, (Sumatra Selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing).

Namun karena kebanyakan kapak ini ditemukan di Pacitan, maka oleh Ralp Von Koenigswald disebut sebagai kebudayan Pacitan.

Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa

Alat-alat yang berbahan tulang binatang serta tanduk rusa juga adalah peninggalan dari zaman paleolitikum. Alat ini adalah hasil dari kebudayaan Ngandong. Alat ini juga didominasi oleh alat yang berupa penusuk atau belati dan juga ujung tombak yang bergerigi. Fungsinya yaitu sebagai pengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta dipakai untuk menangkap ikan.

Flakes

Adalah alat yang merupakan peralatan yang bentuknya mini yang terbuat dari batu chalcedon yang fungsinya adalah alat untuk mengupas makanan. Flakes juga merupakan hasil dari kebudayaan Ngandong. Bukan hanya dipakai untuk mengupas makanan, tapi juga untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi serta buah-buahan.

Sekian ulasan mengenai zaman paleolitikum yang dilengkapi dengan pengertian, ciri, kehidupan, kebudayaan, kepercayaan, dan juga peninggalannya. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi yang tepat bagi anda semua yang sedang mempelajari sejarah manusia purba.

Baca Juga :